
MAKALAH
MATERI DAN PEMBELAJARAN IPS SD (PDGK4405)
TENTANG
“PERUBAHAN DAN KONFLIK SOSIAL”
Disusun
Oleh :
Kelompok I
|
|
ASEP SUPRIATNA RM.
NIM. 819610406
MAMAH SURYAMAH
NIM. 820815011
ETI
KUSMIRAH
NIM. 820818207
AI KUSMIATI
NIM. 820808618
|
|
UNIVERSITAS TERBUKA UPBJJ-UT
POKJAR
LEUWILIANG
2014
LEMBAR
PENGESAHAN
“PERUBAHAN
DAN KONFLIK SOSIAL”
Telah
Disetujui Oleh :
|
|
Tutor
Mata Kuliah Materi dan Pembelajaran IPS SD
NURI AKBAR, S.Pd
|
|
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat Allah Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Taufik dan
Hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam
bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.
Harapan
saya semoga rangkuman ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca, sehingga penulis dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini
sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini
saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang penulis miliki sangat
kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
|
|
|
Bogor, November 2014
Penulis
|
DAFTAR ISI
Lembar
Pengesahan ........................................................................................... i
Kata
Pengantar ................................................................................................... ii
Daftar
Isi ............................................................................................................ iii
BAB
I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
BAB
II LANDASAN TEORI .......................................................................... 2
BAB
III PEMBAHASAN ................................................................................ 4
A.
PERILAKU SOSIAL ................................................................................ 4
B.
PERUBAHAN SOSIAL ............................................................................ 8
C.
KONFLIK SOSIAL ................................................................................... 9
BAB
IV KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 10
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR
BELAKANG
Kedudukan
manusia sebagai makhluk sosial ditunjukan oleh adanya saling ketergantungan
antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Dalam suasana saling
ketergantungan tersebut terkadang timbul ketidakharmonisan yang berujung pada
timbulnya konflik sosial berkenaan dengan predikat manisia sebagai makhluk sosial.
Dalam
kehidupan sehari-hari, baik perorangan maupun kelompok, manusia selalu
menunjukan perilaku dan tindakan sosial untuk mendapatkan respons dari pihak
lain sehingga terjadi interaksi sosial. Dalam melakukan tindakan dan interaksi
sosial tersebut terdapat kaidah-kaidah yang harus ditaati oleh setiap anggota
masyarakat untuk mewujudkan dan memelihara kelanggengan hidup bermasyarakat
Oleh
karena itu kami memilih judul Perubahan dan konflik sosial sebagai praktisi
pendidikan mengingan bahwa manusia
merupakan makhluk sosial.
1.2
TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah ini adalah :
1.2.1
Mengetahui konsep perilaku sosial.
1.2.2
Mengetahui konsep perubahan sosial.
1.2.3
Mengetahui terjadinya konflik sosial.
1.3
RUANG
LINGKUP MATERI
Ruang
lingkup dari perubahan dan konflik sosial yaitu tidak lepas dari perilaku
sosial, tindakan sosial, interaksi social.
Dalam
prilaku social, itu merupakan salah satu yang melekat pada diri manusia sebagai
makhluk social (homo socius), oleh karena itu setiap orang memiiki dorongan dan
keinginan untuk bergaul dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi untuk
terjadinya interaksi social harus terpenuhi syarat berikut, yaitu adanya kontak
social dan komunikasi.
BAB II
LANDASAN TEORI
Perubahan sosial merupakan suatu hal
yang wajar dan akan terus berlangsung sepanjang manusia berinteraksi dan
bersosialisasi. Perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan unsur-unsur
dalam kehidupan masyarakat, baik yang bersifat materiil maupun immaterial,
sebagai cara untuk menjaga keseimbangan masyarakat dan menyesuaikan dengan
perkembangan zaman yang dinamis. Misalnya, unsur-unsur geografis, biologis,
ekonomis, atau kebudayaan.
Para sosiolog berpendapat bahwa
perubahan sosial adalah kondisi-kondisi sosial primer yang menyebabkan
terjadinya perubahan sosial. Kondisi yang dimaksud antara lain kondisi-kondisi
ekonomis, teknologis, geografis, ataupun biologis. Kondisi ini menyebabkan
terjadinya perubahan-perubahan pada aspek kehidupan sosial lainnya. Beberapa
teori yang menjelaskan sebab-sebab terjadi perubahan sosial antara lain sebagai
berikut.
a. Teori Evolusi (Evolutionary Theory)
Teori ini berpijak pada teori evolusi
Darwin dan dipengaruhi oleh pemikiran Herbert Spencer. Tokoh yang berpengaruh
pada teori ini ialah Emile Durkheim dan Ferdinand Tonnies Durkheim berpendapat
bahwa perubahan karena evolusi memengaruhi cara pengorganisasian masyarakat,
terutama yang berhubungan dengan kerja. Adapun Tonnies memandang bahwa
masyarakat berubah dari masyarakat sederhana yang mempunyai hubungan yang erat
dan kooperatif, menjadi tipe masyarakat besar yang memiliki hubungan yang
terspesialisasi dan impersonal. Tonnies tidak yakin bahwa perubahanperubahan
tersebut selalu membawa kemajuan. Dia melihat adanya fragmentasi sosial (perpecahan
dalam masyarakat), individu menjadi terasing, dan lemahnya ikatan sosial
sebagai akibat langsung dari perubahan sosial budaya ke arah individualisasi
dan pencarian kekuasaan. Gejala itu tampak jelas pada masyarakat perkotaan.
Teori ini masih belum memuaskan banyak pihak karena tidak mampu menjelaskan
jawaban terhadap pertanyaan mengapa masyarakat berubah. Teori ini hanya
menjelaskan proses perubahan terjadi.
b. Teori Konflik (Conflict Theory)
Menurut teori ini, konflik berasal dari
pertentangan kelas antara kelompok tertindas dan kelompok penguasa sehingga
akan mengarah pada perubahan sosial. Teori ini berpedoman pada pemikiran Karl
Marx yang menyebutkan bahwa konflik kelas sosial merupakan sumber yang paling
penting dan berpengaruh dalam semua perubahan sosial. Ralf Dahrendorf
berpendapat bahwa semua perubahan sosial merupakan hasil dari konflik kelas di
masyarakat. la yakin bahwa konflik atau pertentangan selalu menjadi bagian dari
masyarakat. Menurut pandangannya, prinsip dasar teori konflik (konflik sosial
dan perubahan sosial) selalu melekat dalam struktur masyarakat.
c. Teori Fungsional (Functional Theory)
Teori fungsional berusaha melacak
penyebab perubahan sosial sampai pada ketidakpuasan masyarakat akan kondisi
sosialnya yang secara pribadi memengaruhi mereka. Teori ini berhasil menjelas
kan perubahan sosial yang tingkatnya moderat. Konsep kejutan budaya menurut
William F. Ogburn berusaha menjelaskan perubahan sosial dalam kerangka
fungsional. Menurutnya, meskipun unsur-unsur masyarakat saling berhubungan satu
sama lain, beberapa unsurnya bisa saja berubah dengan sangat cepat, sementara
unsur lainnya tidak. Ketertinggalan tersebut menjadikan kesenjangan sosial dan
budaya di antara unsur-unsur yang berubah sangat cepat dan unsur yang berubah lambat.
Kesenjangan ini akan menyebabkan adanya kejutan sosial dan budaya pada
masyarakat.
Ogburn menyebutkan perubahan teknologi
biasanya lebih cepat daripada perubahan budaya nonmaterial, seperti
kepercayaan, norma, nilai-nilai yang mengatur masyarakat sehari-hari.
BAB III
PEMBAHASAN
PERUBAHAN DAN KONFLIK SOSIAL
A.
PERILAKU SOSIAL
1.
Perilaku Sosial
Perilaku sosial adalah suasana saling
ketergantungan yang merupakan keharusan untuk menjamin keberadaan
manusia (Rusli Ibrahim, 2001). Sebagai bukti bahwa manusia dalam memnuhi
kebutuhan hidup sebagai diri pribadi tidak dapat melakukannya sendiri melainkan
memerlukan bantuan dari orang lain.Ada
ikatan saling ketergantungan diantara satu orang dengan yang
lainnya. Artinya bahwa kelangsungan hidup manusia berlangsung
dalam suasana saling mendukung dalam kebersamaan. Untuk itu manusia
dituntut mampu bekerja sama, saling menghormati, tidak menggangu hak
orang lain, toleran dalam hidup bermasyarakat.
2.
Tindakan Sosial
Tindakan atau aksi (action) berarti
perbuatan atau sesuatu yang dilakukan. Secara sosiologis, tindakan artinya
seluruh perbuatan manusia yang dilakukan secara disadari atau tidak disadari,
sengaja atau tidak disengaja yang mempunyai makna subyektif bagi pelakunya.
Di dalam sosiologi, tindakan sosial
banyak dikemukakan oleh Max Weber (1864-1920) seorang ahli sosiologi Jerman,
dimana tindakan sosial dimulai dari tindakan individu atau perilaku individu
dengan perilaku orang lain, yang diorientasikan pada tindakan tersebut,
sehingga dapat dipahami secara subyektif, maksudnya setiap tindakan yang
dilakukan seseorang akan memiliki maksud atau makna tertentu. Dengan kata lain,
tindakan sosial merupakan tindakan individu yang memiliki arti subyektif bagi
dirinya yang diarahkan pada tindakan orang lain. Karena itu, tidak semua
perbuatan atau kelakuan manusia dapat dikategorikan sebagai tindakan sosial.
Jika ada manusia yang sedang melakukan
tindakan seperti sedang menendang pohon, hal itu bukanlah
tindakan sosial karena tindakan individu diarahkan pada benda mati, sehingga
dari benda tersebut tidak akan menimbulkan reaksi sosial terhadap dirinya. Akan
tetapi tindakan terhadap benda mati dapat disebut sebagai tindakan sosial
apabila tindakannya tersebut menimbulkan reaksi dari orang lain.
Pada dasarnya tindakan sosial dapat
dibedakan menjadi empat tipe tindakan berdasarkan tingkat kemudahan untuk
dipahami sebagai berikut:
1)
Rasionalitas instrumental merupakan
tindakan sosial murni, dimana tindakan tersebut dilakukan dengan
memperhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dan tujuan yang akan
dicapai (bersifat rasional).
2)
Rasionalitas berorientasi nilai
merupakan tindakan yang dilakukan dengan memperhitungkan manfaatnya, tetapi
tujuan yang dicapai tidak terlalu dipertimbangkan yang penting tindakan
tersebut baik dan benar menurut penilaian masyarakat.
3)
Tindakan afektif. Tindakan ini
dilakukan dengan dibuat-buat yang didasari oleh perasaan atau emosi dan
kepura-puraan seseorang.
4)
Tindakan tradisional. Tindakan ini
didasarkan atas kebiasaan-kebiasaan dalam mengerjakan sesuatu dimasa lalunya
atau yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu, tanpa perhitungan secara
matang, dan sama sekali tidak rasional.
3.
Interaksi
Sosial
Menurut Kimbal Young dan Raymond, W.
Mack, interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, oleh karena
tanpa interaksi sosial tak akan ada kehidupan bersama. Artinya, kehidupan
sosial dapat terwujud dalam berbagai bentuk pergaulan seseorang dengan orang
lain. Gillin dan Gillin mendefinisikan interaksi sosial sebagai
hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang
perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan
dengan kelompok manusia.
Sejak manusia lahir
ke dunia, proses interaksi sudah mulai dilakukan, walaupun terbatas pada
hubungan yang dilakukan seorang bayi terhadap ibunya. Interaksi sosial erat
kaitannya dengan naluri manusia untuk selalu hidup bersama dengan orang lain,
dan ingin bersatu dengan lingkungan sosialnya. Naluri ini dinamakan Gregariousness.
Berdasarkan
berlangsungnya interaksi sosial, maka memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Pelaku lebih dari satu orang
2) Adanya komunikasi diantara pelaku
3) Adanya tujuan mungkin sama atau tidak sama antar pelaku
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial
Empat faktor yang menjadi dasar proses interaksi sosial
adalah sebagai berikut:
a.
Imitasi
Imitasi merupakan suatu proses dimana
seseorang atau individu meniru perilaku dan tindakan orang lain. Terdapat
beberapa syarat bagi seseorang sebelum melakukan imitasi, yaitu:
1)
Adanya minat dan perhatian yang cukup
besat terhadap hal yang akan ditiru
2)
Adanya sikap mengagumi hal-hal yang di
imitasi
3)
Hal yang akan ditiru mempunyai
penghargaan sosial yang tinggi
b.
Sugesti
Sugesti merupakan suatu proses dimana
seorang individu menerima suatu cara pandangan tingkahlaku dari orang lain
tanpa kritik terlebih dahulu.
c.
Identifikasi
Identifikasi adalah kecenderungan dalam
diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Identifikasi merupakan
bentuk lebih lanjut dari proses imitasi dan proses sugesti yang pengaruhnya
telah amat kuat. Orang lain yangg menjadi sasaran identifikasi dinamakan idola.
d.
Simpati
Simpati merupakan faktor yang sama
penting dalam proses interaksi sosial, yang menentukan terhadap proses
selanjutnya. Dibandingkan ketiga faktor interaksi sosial sebelumnya, simpati
terjadi melalui proses yang relatif lambat. Namun, pengaruh simpati lebih
mendalam dan tahan lama.
4.
Bentuk
Interaksi Sosial
kerjasama
adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai
tujuan. Berikut ini adalah bentuk-bentuk kerja sama.
- Kerukunan yang mencakup gotong royong dan tolong menolong antar sesama warga dalam masyarakat. Contoh : gotong royong yang dilakukan di suatu desa untuk membangun rumah salah satu warga.
- Bargaining, yaitu pelaksana perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antara dua organisasi atau lebih. Contoh : Bargaining antara pemerintah Indonesia dengan Thailand, yaitu Indonesia menukarkan minyak bumi dengan beras dari Thailand.
- Kooptasi, yaitu suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksana politik dalam suatu organisasi dan sebagai suatu cara untuk menghindari terjadinya keguncangan dalam organisasi yang bersangkutan. Contoh : Pemerintah sekarang membuat UU anti korupsi dan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) untuk menghindari keguncangan akibat korupsi.
- Koalisi, yaitu kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan sama. Contoh : koalisi bebrapa partai di lembaga legislatif untuk mencalonkan bupati atau prersiden.
- Joint-Venture, yaitu kerja sama antara beberapa organisasi dalam mengusahakan proyek-proyek tertentu. Contoh joint-venture antara Indonesia dan Amerika dalam pengeboran minyak di Cepu.
Akomodasi sebenarnya merupakan suatu cara untuk
menyelesaikan pertentangan tanpa cara mengahancurkan pihak lawan sehingga lawan
tidak kehilangan kepribadiaanya. Dalam pelaksanaannya, akomodasi memiliki
beberapa bentuk yaitu koersi, kompromi, arbitasi, mediasi, konsilisasi,
toleransi, stalemate , dan ajudikasi.
B.
PERUBAHAN SOSIAL
secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses pergeseran atau
berubahnya struktur/tatanan didalam masyarakat, meliputi pola pikir yang lebih
inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapatkan penghidupan yang
lebih bermartabat.
Pada dasarnya setiap masyarakat yang ada di muka bumi ini dalam hidupnya
dapat dipastikan akan mengalami apa yang dinamakan dengan perubahan-perubahan.
Adanya perubahan-perubahan tersebut akan dapat diketahui bila kita melakukan suatu
perbandingan dengan menelaah suatu masyarakat pada masa tertentu yang kemudian
kita bandingkan dengan keadaan masyarakat pada waktu yang lampau.
Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat,pada dasarnya merupakan
suatu proses yang terus menerus, ini berarti bahwa setiap masyarakat pada
kenyataannya akan mengalami perubahan-perubahan.
Tetapi perubahan yang terjadi antara masyarakat yang satu dengan
masyarakat yang lain tidak selalu sama. Hal ini dikarenakan adanya suatu
masyarakat yang mengalami perubahan yang lebih cepat bila dibandingkan dengan
masyarakat lainnya. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan-perubahan yang
tidak menonjol atau tidak menampakkan adanya suatu perubahan. Juga terdapat
adanya perubahan-perubahan yang memiliki pengaruh luas maupun terbatas. Di
samping itu ada juga perubahan-perubahan yang prosesnya lambat, dan perubahan
yang berlangsung dengan cepat.
Dibawah ini dikemukakan beberapa factor penyebab peerubahan social yang
bersumber dari masyarakat yaitu :
a.
Perubahan komposisi penduduk
b.
Penemu baru
c.
Konflik social
d.
pemberontakan
C. KONFLIK SOSIAL
Konflik social dapat diartikan sebagai
pertentangan antar anggota masyarakat yang bersifat menyeluruh dalam kehidupan.
Sumber terjadinya konflik social dapat di kategorikan ke dalam lima factor
berikut ;
1. Faktor perbedaan individu dalam
masyarakat
2. Perbedaan pola kebudayaan
3. Perbedaan
status sosial
4. Perbedaan kepentingan
5. Terjadinya perubahan sosial
Pada umumnya , terdapat enam bentuk
konflik social yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, yaitu :
1. Konflik pribdi
2. Konflik kelompok
3. Konflik antarkelas sosial
4. Konflik rasial
5. Konflik politik
6. Konflik budaya
BAB IV
PENUTUP
1.
KESIMPULAN
Terjadinya
perubahan dan konflik sosial dipicu oleh perilaku sosial, tindakan sosial, dan
interaksi sosial, oleh karenanya perilaku yang ada pada diri kita harus di bina
semenjak masa kanak-kanak (personality
building), dengan adanya pembinaan tersebut maka tindakan dan interaksi
sosialnya pun akan baik sehingga kecil kemungkinan terjadinya konflik sosial.
2.
SARAN
Sebagai seorang guru hendaknya lebih menekankan sikap
sosial, dan spiritual terhadap anak didiknya, dengan begitu peserta didik akan
lebih bisa bersosialisasi dengan baik dan terhindar dari konflik social.
DAFTAR PUSTAKA
Johnson, Doyle Paup. (1988). Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jilid 1 dan 2. Terjemaahan,
Robert M.Z. Lawang Jakarta : Gramedia
Gerungan, W.A. (1978). Psychologi
Sosial. Bandung : Eresco.