Sabtu, 01 November 2014

makalah perubahan dan konflik sosial












MAKALAH
MATERI DAN PEMBELAJARAN IPS SD (PDGK4405)
TENTANG
“PERUBAHAN DAN KONFLIK SOSIAL”

Disusun Oleh :
Kelompok I


ASEP SUPRIATNA RM.
NIM. 819610406

MAMAH SURYAMAH
NIM. 820815011

ETI  KUSMIRAH
NIM. 820818207

AI KUSMIATI
NIM. 820808618


UNIVERSITAS TERBUKA UPBJJ-UT
                                            POKJAR LEUWILIANG                             
2014

LEMBAR PENGESAHAN


“PERUBAHAN DAN KONFLIK SOSIAL”
Telah Disetujui Oleh :





Tutor Mata Kuliah Materi dan Pembelajaran IPS SD



NURI AKBAR, S.Pd



















KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Taufik dan Hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.
Harapan saya semoga rangkuman ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga penulis dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang penulis miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.




Bogor, November 2014
Penulis












DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan ........................................................................................... i
Kata Pengantar ................................................................................................... ii
Daftar Isi ............................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
BAB II LANDASAN TEORI .......................................................................... 2
BAB III PEMBAHASAN ................................................................................ 4
A.      PERILAKU SOSIAL ................................................................................ 4
B.       PERUBAHAN SOSIAL ............................................................................ 8
C.       KONFLIK SOSIAL ................................................................................... 9
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA


















BAB I
PENDAHULUAN

1.1         LATAR BELAKANG
Kedudukan manusia sebagai makhluk sosial ditunjukan oleh adanya saling ketergantungan antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Dalam suasana saling ketergantungan tersebut terkadang timbul ketidakharmonisan yang berujung pada timbulnya konflik sosial berkenaan dengan predikat manisia sebagai makhluk sosial.
Dalam kehidupan sehari-hari, baik perorangan maupun kelompok, manusia selalu menunjukan perilaku dan tindakan sosial untuk mendapatkan respons dari pihak lain sehingga terjadi interaksi sosial. Dalam melakukan tindakan dan interaksi sosial tersebut terdapat kaidah-kaidah yang harus ditaati oleh setiap anggota masyarakat untuk mewujudkan dan memelihara kelanggengan hidup bermasyarakat
Oleh karena itu kami memilih judul Perubahan dan konflik sosial sebagai praktisi pendidikan  mengingan bahwa manusia merupakan makhluk sosial.
1.2         TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah ini adalah :
1.2.1             Mengetahui konsep perilaku sosial.
1.2.2             Mengetahui konsep perubahan sosial.
1.2.3             Mengetahui terjadinya konflik sosial.

1.3         RUANG LINGKUP MATERI
Ruang lingkup dari perubahan dan konflik sosial yaitu tidak lepas dari perilaku sosial, tindakan sosial, interaksi social.
Dalam prilaku social, itu merupakan salah satu yang melekat pada diri manusia sebagai makhluk social (homo socius), oleh karena itu setiap orang memiiki dorongan dan keinginan untuk bergaul dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi untuk terjadinya interaksi social harus terpenuhi syarat berikut, yaitu adanya kontak social dan komunikasi.
BAB II
LANDASAN TEORI

Perubahan sosial merupakan suatu hal yang wajar dan akan terus berlangsung sepanjang manusia berinteraksi dan bersosialisasi. Perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan unsur-unsur dalam kehidupan masyarakat, baik yang bersifat materiil maupun immaterial, sebagai cara untuk menjaga keseimbangan masyarakat dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang dinamis. Misalnya, unsur-unsur geografis, biologis, ekonomis, atau kebudayaan.
Para sosiolog berpendapat bahwa perubahan sosial adalah kondisi-kondisi sosial primer yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial. Kondisi yang dimaksud antara lain kondisi-kondisi ekonomis, teknologis, geografis, ataupun biologis. Kondisi ini menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan pada aspek kehidupan sosial lainnya. Beberapa teori yang menjelaskan sebab-sebab terjadi perubahan sosial antara lain sebagai berikut.

a. Teori Evolusi (Evolutionary Theory)
Teori ini berpijak pada teori evolusi Darwin dan dipengaruhi oleh pemikiran Herbert Spencer. Tokoh yang berpengaruh pada teori ini ialah Emile Durkheim dan Ferdinand Tonnies Durkheim berpendapat bahwa perubahan karena evolusi memengaruhi cara pengorganisasian masyarakat, terutama yang berhubungan dengan kerja. Adapun Tonnies memandang bahwa masyarakat berubah dari masyarakat sederhana yang mempunyai hubungan yang erat dan kooperatif, menjadi tipe masyarakat besar yang memiliki hubungan yang terspesialisasi dan impersonal. Tonnies tidak yakin bahwa perubahanperubahan tersebut selalu membawa kemajuan. Dia melihat adanya fragmentasi sosial (perpecahan dalam masyarakat), individu menjadi terasing, dan lemahnya ikatan sosial sebagai akibat langsung dari perubahan sosial budaya ke arah individualisasi dan pencarian kekuasaan. Gejala itu tampak jelas pada masyarakat perkotaan. Teori ini masih belum memuaskan banyak pihak karena tidak mampu menjelaskan jawaban terhadap pertanyaan mengapa masyarakat berubah. Teori ini hanya menjelaskan proses perubahan terjadi.

b. Teori Konflik (Conflict Theory)
Menurut teori ini, konflik berasal dari pertentangan kelas antara kelompok tertindas dan kelompok penguasa sehingga akan mengarah pada perubahan sosial. Teori ini berpedoman pada pemikiran Karl Marx yang menyebutkan bahwa konflik kelas sosial merupakan sumber yang paling penting dan berpengaruh dalam semua perubahan sosial. Ralf Dahrendorf berpendapat bahwa semua perubahan sosial merupakan hasil dari konflik kelas di masyarakat. la yakin bahwa konflik atau pertentangan selalu menjadi bagian dari masyarakat. Menurut pandangannya, prinsip dasar teori konflik (konflik sosial dan perubahan sosial) selalu melekat dalam struktur masyarakat.

c. Teori Fungsional (Functional Theory)
Teori fungsional berusaha melacak penyebab perubahan sosial sampai pada ketidakpuasan masyarakat akan kondisi sosialnya yang secara pribadi memengaruhi mereka. Teori ini berhasil menjelas kan perubahan sosial yang tingkatnya moderat. Konsep kejutan budaya menurut William F. Ogburn berusaha menjelaskan perubahan sosial dalam kerangka fungsional. Menurutnya, meskipun unsur-unsur masyarakat saling berhubungan satu sama lain, beberapa unsurnya bisa saja berubah dengan sangat cepat, sementara unsur lainnya tidak. Ketertinggalan tersebut menjadikan kesenjangan sosial dan budaya di antara unsur-unsur yang berubah sangat cepat dan unsur yang berubah lambat. Kesenjangan ini akan menyebabkan adanya kejutan sosial dan budaya pada masyarakat.
Ogburn menyebutkan perubahan teknologi biasanya lebih cepat daripada perubahan budaya nonmaterial, seperti kepercayaan, norma, nilai-nilai yang mengatur masyarakat sehari-hari.





BAB III
PEMBAHASAN

PERUBAHAN DAN KONFLIK SOSIAL

A.      PERILAKU SOSIAL
1.      Perilaku Sosial
Perilaku sosial adalah suasana saling ketergantungan yang merupakan  keharusan untuk menjamin keberadaan manusia  (Rusli Ibrahim, 2001). Sebagai bukti bahwa manusia dalam memnuhi kebutuhan hidup sebagai diri pribadi tidak dapat melakukannya sendiri melainkan memerlukan bantuan dari orang lain.Ada ikatan  saling ketergantungan diantara satu orang  dengan yang lainnya.   Artinya bahwa kelangsungan  hidup manusia berlangsung dalam  suasana saling mendukung  dalam kebersamaan. Untuk itu manusia dituntut  mampu bekerja sama, saling menghormati, tidak menggangu hak orang lain, toleran dalam hidup bermasyarakat.
2.      Tindakan Sosial
Tindakan atau aksi (action) berarti perbuatan atau sesuatu yang dilakukan. Secara sosiologis, tindakan artinya seluruh perbuatan manusia yang dilakukan secara disadari atau tidak disadari, sengaja atau tidak disengaja yang mempunyai makna subyektif bagi pelakunya.
Di dalam sosiologi, tindakan sosial banyak dikemukakan oleh Max Weber (1864-1920) seorang ahli sosiologi Jerman, dimana tindakan sosial dimulai dari tindakan individu atau perilaku individu dengan perilaku orang lain, yang diorientasikan pada tindakan tersebut, sehingga dapat dipahami secara subyektif, maksudnya setiap tindakan yang dilakukan seseorang akan memiliki maksud atau makna tertentu. Dengan kata lain, tindakan sosial merupakan tindakan individu yang memiliki arti subyektif bagi dirinya yang diarahkan pada tindakan orang lain. Karena itu, tidak semua perbuatan atau kelakuan manusia dapat dikategorikan sebagai tindakan sosial.

Jika ada manusia yang sedang melakukan tindakan seperti sedang menendang pohon, hal itu bukanlah tindakan sosial karena tindakan individu diarahkan pada benda mati, sehingga dari benda tersebut tidak akan menimbulkan reaksi sosial terhadap dirinya. Akan tetapi tindakan terhadap benda mati dapat disebut sebagai tindakan sosial apabila tindakannya tersebut menimbulkan reaksi dari orang lain.
Pada dasarnya tindakan sosial dapat dibedakan menjadi empat tipe tindakan berdasarkan tingkat kemudahan untuk dipahami sebagai berikut:
1)         Rasionalitas instrumental merupakan tindakan sosial murni, dimana tindakan tersebut dilakukan dengan memperhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dan tujuan yang akan dicapai (bersifat rasional).
2)         Rasionalitas berorientasi nilai merupakan tindakan yang dilakukan dengan memperhitungkan manfaatnya, tetapi tujuan yang dicapai tidak terlalu dipertimbangkan yang penting tindakan tersebut baik dan benar menurut penilaian masyarakat.
3)         Tindakan afektif. Tindakan ini dilakukan dengan dibuat-buat yang didasari oleh perasaan atau emosi dan kepura-puraan seseorang.
4)         Tindakan tradisional. Tindakan ini didasarkan atas kebiasaan-kebiasaan dalam mengerjakan sesuatu dimasa lalunya atau yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu, tanpa perhitungan secara matang, dan sama sekali tidak rasional.
3.      Interaksi Sosial
Menurut Kimbal Young dan Raymond, W. Mack, interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, oleh karena tanpa interaksi sosial tak akan ada kehidupan bersama. Artinya, kehidupan sosial dapat terwujud dalam berbagai bentuk pergaulan seseorang dengan orang lain. Gillin dan Gillin mendefinisikan interaksi sosial sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia.

Sejak manusia lahir  ke dunia, proses interaksi sudah mulai dilakukan, walaupun terbatas pada hubungan yang dilakukan seorang bayi terhadap ibunya. Interaksi sosial erat kaitannya dengan naluri manusia untuk selalu hidup bersama dengan orang lain, dan ingin bersatu dengan lingkungan sosialnya. Naluri ini  dinamakan Gregariousness.
  Berdasarkan berlangsungnya interaksi sosial, maka memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1)     Pelaku lebih dari satu orang
2)     Adanya komunikasi diantara pelaku
3)     Adanya tujuan mungkin sama atau tidak sama antar pelaku
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial
Empat faktor yang menjadi dasar proses interaksi sosial adalah sebagai berikut:
a.      Imitasi
Imitasi merupakan suatu proses dimana seseorang atau individu meniru perilaku dan tindakan orang lain. Terdapat beberapa syarat bagi seseorang sebelum melakukan imitasi, yaitu:
1)         Adanya minat dan perhatian yang cukup besat terhadap hal yang akan ditiru
2)         Adanya sikap mengagumi hal-hal yang di imitasi
3)         Hal yang akan ditiru mempunyai penghargaan sosial yang tinggi
b.      Sugesti
Sugesti merupakan suatu proses dimana seorang individu menerima suatu cara pandangan tingkahlaku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu.
c.        Identifikasi
Identifikasi adalah kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Identifikasi merupakan bentuk lebih lanjut dari proses imitasi dan proses sugesti yang pengaruhnya telah amat kuat. Orang lain yangg menjadi sasaran identifikasi dinamakan idola.
d.      Simpati
Simpati merupakan faktor yang sama penting dalam proses interaksi sosial, yang menentukan terhadap proses selanjutnya. Dibandingkan ketiga faktor interaksi sosial sebelumnya, simpati terjadi melalui proses yang relatif lambat. Namun, pengaruh simpati lebih mendalam dan tahan lama.

4.      Bentuk Interaksi Sosial
kerjasama adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan. Berikut ini adalah bentuk-bentuk kerja sama.
  • Kerukunan yang mencakup gotong royong dan tolong menolong antar sesama warga dalam masyarakat. Contoh : gotong royong yang dilakukan di suatu desa untuk membangun rumah salah satu warga.
  • Bargaining, yaitu pelaksana perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antara dua organisasi atau lebih. Contoh : Bargaining antara pemerintah Indonesia dengan Thailand, yaitu Indonesia menukarkan minyak bumi dengan beras dari Thailand.
  • Kooptasi, yaitu suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksana politik dalam suatu organisasi dan sebagai suatu cara untuk menghindari terjadinya keguncangan dalam organisasi yang bersangkutan. Contoh : Pemerintah sekarang membuat UU anti korupsi dan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) untuk menghindari keguncangan akibat korupsi.
  • Koalisi, yaitu kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan sama. Contoh : koalisi bebrapa partai di lembaga legislatif untuk mencalonkan bupati atau prersiden.
  • Joint-Venture, yaitu kerja sama antara beberapa organisasi dalam mengusahakan proyek-proyek tertentu. Contoh joint-venture antara Indonesia dan Amerika dalam pengeboran minyak di Cepu.
Akomodasi sebenarnya merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa cara mengahancurkan pihak lawan sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiaanya. Dalam pelaksanaannya, akomodasi memiliki beberapa bentuk yaitu koersi, kompromi, arbitasi, mediasi, konsilisasi, toleransi, stalemate , dan ajudikasi.
B.       PERUBAHAN SOSIAL
secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses pergeseran atau berubahnya struktur/tatanan didalam masyarakat, meliputi pola pikir yang lebih inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapatkan penghidupan yang lebih bermartabat.Teori dan Pengertian Perubahan Sosial
Pada dasarnya setiap masyarakat yang ada di muka bumi ini dalam hidupnya dapat dipastikan akan mengalami apa yang dinamakan dengan perubahan-perubahan. Adanya perubahan-perubahan tersebut akan dapat diketahui bila kita melakukan suatu perbanding­an dengan menelaah suatu masyarakat pada masa tertentu yang kemudian kita bandingkan dengan keadaan masyarakat pada waktu yang lampau. Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat,pada dasarnya merupakan suatu proses yang terus menerus, ini berarti bahwa setiap masyarakat pada kenyataannya akan mengalami perubahan-peru­bahan.
Tetapi perubahan yang terjadi antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain tidak selalu sama. Hal ini dikarenakan adanya suatu masyarakat yang meng­alami perubahan yang lebih cepat bila dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan-perubahan yang tidak menonjol atau tidak menampakkan adanya suatu perubahan. Juga terdapat adanya perubahan-perubahan yang memiliki pengaruh luas maupun terbatas. Di samping itu ada juga perubahan-perubahan yang prosesnya lambat, dan perubahan yang berlangsung dengan cepat.
Dibawah ini dikemukakan beberapa factor penyebab peerubahan social yang bersumber dari masyarakat yaitu :
a.       Perubahan komposisi penduduk
b.      Penemu baru
c.       Konflik social
d.      pemberontakan

C.       KONFLIK SOSIAL
Konflik social dapat diartikan sebagai pertentangan antar anggota masyarakat yang bersifat menyeluruh dalam kehidupan. Sumber terjadinya konflik social dapat di kategorikan ke dalam lima factor berikut ;
1.      Faktor perbedaan individu dalam masyarakat
2.      Perbedaan pola kebudayaan
3.       Perbedaan status sosial
4.      Perbedaan kepentingan
5.      Terjadinya perubahan sosial
Pada umumnya , terdapat enam bentuk konflik social yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, yaitu :
1.      Konflik pribdi
2.      Konflik kelompok
3.      Konflik antarkelas sosial
4.      Konflik rasial
5.      Konflik politik
6.      Konflik budaya














BAB IV
PENUTUP

1.        KESIMPULAN
Terjadinya perubahan dan konflik sosial dipicu oleh perilaku sosial, tindakan sosial, dan interaksi sosial, oleh karenanya perilaku yang ada pada diri kita harus di bina semenjak masa kanak-kanak (personality building), dengan adanya pembinaan tersebut maka tindakan dan interaksi sosialnya pun akan baik sehingga kecil kemungkinan terjadinya konflik sosial. 

2.        SARAN
Sebagai seorang guru hendaknya lebih menekankan sikap sosial, dan spiritual terhadap anak didiknya, dengan begitu peserta didik akan lebih bisa bersosialisasi dengan baik dan terhindar dari konflik social.


















DAFTAR PUSTAKA

Johnson, Doyle Paup. (1988). Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jilid 1 dan 2. Terjemaahan, Robert M.Z. Lawang Jakarta : Gramedia
Gerungan, W.A. (1978). Psychologi Sosial. Bandung : Eresco.